TANGERANG SELATAN – Pemerintah Kecamatan Serpong Utara menggelar Lokakarya Mini (Lokmin) Triwulan II Tahun 2026 tanggal 9 Juni 2026 yang bertempat di Aula Kelurahan Jelupang. Pertemuan lintas sektor ini menjadi wadah penting untuk mengevaluasi program kesehatan dasar, mengupas validasi data jaminan kesehatan, hingga memetakan kasus penyakit menular dan kesehatan jiwa di wilayah Serpong Utara.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian arahan strategis dari pimpinan daerah, anggota legislatif, serta jajaran dinas terkait.
Aspirasi Warga dan Validasi Data PBI BPJS Kesehatan
Plt. Camat Serpong Utara, Bapak Dahlan, menegaskan bahwa kegiatan triwulan ini merupakan perpanjangan tangan masyarakat untuk bersinergi menyukseskan program puskesmas. Kehadiran perwakilan legislatif diharapkan mampu menyerap aspirasi riil dari tingkat akar rumput.
Anggota DPRD Kota Tangsel Komisi II, Bapak HM Ricky Bastian, memaparkan data krusial terkait kepesertaan BPJS Kesehatan. Saat ini, Kota Tangerang Selatan merupakan penyelenggara UHC dengan predikat Madya (90%). Tercatat sebanyak 352.000 jiwa dibayarkan melalui PBI Pemda dan 202.000 jiwa melalui PBI JK (Pusat).
"Namun, saat ini ada sekitar 20.000 PBI Pemda yang dinonaktifkan karena hasil verifikasi menunjukkan mereka berada di desil 6–10. Kita harus memastikan seluruh anggaran kesehatan tepat sasaran berdasarkan data kemiskinan yang valid, yaitu desil 1–5," jelas HM Ricky Bastian.
Sertifikasi RW Bebas TB dan Agenda Skrining Massal
Kepala Bidang P2 Dinas Kesehatan Kota Tangsel, dr. Eliwedi, memaparkan perkembangan program pencegahan penyakit. Saat ini, 50% RW di Serpong Utara telah tersertifikasi sebagai RW Bebas TB, dengan menyisakan wilayah Pakujaya dan Lengkong Karya yang terus dipacu.
Dr. Eliwedi juga menyampaikan beberapa agenda dan capaian penting:
- Penghargaan: Tanggal 25 mendatang akan diserahkan penghargaan untuk RW Bebas Jentik.
- Aksi Lapangan: Tanggal 11 dan 12 akan dilaksanakan kegiatan Active Case Finding (ACF) yang dikombinasikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
- Target CKG: Target nasional CKG tahun ini berada di angka 46%.
- Tren Penyakit: Kasus Flu Singapura (HFMD) di wilayah Serpong Utara dilaporkan sudah mulai mengalami penurunan.
Peta Capaian Klinis dan Sebaran Kasus Kesehatan Puskesmas
Kepala Puskesmas Lengkong Karya, dr. Dian, memaparkan data komprehensif terkait cakupan pelayanan serta sebaran kasus penyakit di seluruh wilayah kerja Puskesmas se-Kecamatan Serpong Utara:
- Manajemen Layanan: Jam pelayanan Puskesmas Lengkong Karya dan Paku Alam berjalan pukul 08.00–14.00 WIB, sedangkan Puskesmas Pondok Jagung melayani UGD 24 Jam. Kabar baiknya, tercatat nol kasus kematian ibu dan bayi di seluruh Serpong Utara.
- Ibu Hamil & Gizi: Ditemukan kasus ibu hamil anemia di Pondok Jagung (9) dan Pondok Jagung Timur (12), serta ibu hamil KEK di Pondok Jagung (2), Pondok Jagung Timur (5), Paku Alam (3), dan Pakulonan (8). Distribusi PMT bumil terus berjalan meningkat, serta terdapat 1 kasus gizi buruk di Kelurahan Jelupang.
- Penyakit Tidak Menular (PTM): Kasus Hipertensi (HT) dan Diabetes Melitus (DM) tertinggi berada di wilayah Pondok Jagung (HT: 1.400, DM: 376) dan Paku Alam (HT: 1.256, DM: 328). Kegiatan Prolanis dan skrining kanker IVA, Thalasemia, serta Lupus (SLE) terus digalakkan.
- Peta Kasus DBD & TBC:
- DBD: Pondok Jagung (9), Pondok Jagung Timur (8), Paku Jaya (6), Jelupang (3), Lengkong Karya (2), Paku Alam (1), Pakulonan (1).
- TBC: Paku Jaya (14), Paku Alam (12), Pakulonan (8), Jelupang (8), Pondok Jagung (4), Pondok Jagung Timur (3).
- Capaian CKG 2026: Puskesmas Pondok Jagung memimpin dengan cakupan 43%, disusul Paku Alam 23%, dan Lengkong Karya 13%.
- Pemberdayaan: Setiap kelurahan diwajibkan mengirimkan 1 posyandu perwakilan untuk mengikuti Lomba TOGA.
Edukasi Kesehatan Jiwa dan Penanganan ODGJ
Sebagai penutup materi, Ibu Maharani mengupas urgensi pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat. Tercatat persebaran pasien ODGJ di wilayah Serpong Utara meliputi: Pondok Jagung Timur (11), Jelupang (10), Pondok Jagung (9), Lengkong Karya (8), Pakulonan (6), Paku Alam (5), dan Paku Jaya (5).
Kelompok umur terbanyak yang mengalami gangguan jiwa berada pada usia produktif 18–59 tahun (70%) akibat faktor biologi, psikososial, dan sosiokultur. Ibu Maharani menekankan pentingnya menghapus stigma negatif di masyarakat yang menganggap ODGJ sebagai aib, berbahaya, atau kurang iman. Beliau juga memaparkan kerentanan gangguan jiwa pada lansia seperti demensia, alzheimer, depresi, gangguan cemas, psikosis, hingga delirium yang membutuhkan penanganan tepat.